Sekar Anindya

just another blog

KETAHANAN NASIONAL

on June 11, 2012

Hakikat Ketahanan Nasional Indonesia adalah keuletan dan ketangguhan bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional untuk dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara dalam mencapai tujuan nasional. Hakikat konsepsi nasional Indonesia adalah pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang, serasi dan, selaras dalam, seluruh aspek, kehidupan nasional. dalam konteks ketahanan nasional:

a. Ketahanan Nasional sebagai status kenyataan nyata atau rela.

b. Ketahanan Nasional sebagai konsepsi

c. Ketahanan Nasional sebagai metode berfikir atau metode pendekatan.

Sifat Ketahanan Nasional :

  1. Mandiri Maksudnya adalah percaya pads kemampuan dan kekuatan sendiri dan tidak mudah menyerahkan.
  2. Dinamis, artinya tidak tetap, naik turun, tergantung situasi dan kondisi bangsa dan negara serta lingkungan strategisnya.
  3. Wibawa. Semakin tinggi tingkat Ketahanan Nasional maka akan semakin tinggi wibawa negara dan pemerintah sebagai penyelenggara kehidupan nasional.
  4. Konsultasi dan Kerjasama. Dimaksudkan adanya saling menghargai dengan mengandalkan kekuatan moral dan kepribadian bangsa.

MEMBANGUN KETAHANAN SOSIAL BUDAYA GUNA MENINGKATKAN KETAHANAN NASIONAL

Dalam perjuangan mencapai tujuannya, bangsa Indonesia senantiasa akan menghadapi berbagai tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan darimana pun datangnya, baik dari luar maupun dari dalam sehingga diperlukan keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional yang disebut Ketahanan Nasional. Bagi bangsa Indonesia, ketahanan nasional dibangun di atas dasar falsafah bangsa dan negara Indonesia yaitu Pancasila, selain itu ketahanan nasional juga dibangun sesuai norma UUD 1945, dan Wawasan Nusantara. Oleh karena itu Ketahanan Nasional perlu terus ditingkatkan, dipupuk dan dibina secara terus menerus berdasarkan Wawasan Nusantara melalui pelaksanaan Pembangunan Nasional dalam segenap aspek dan dimensi kehidupan.

Ketahanan Sosial Budaya adalah kondisi kehidupan sosial budaya bangsa yang dijiwai kepribadian nasional berdasarkan Pancasila .Namun demikian, pembangunan ketahanan sosial budaya hingga saat ini belum dapat berlangsung secara optimal, masih terdapat berberapa permasalahan yang dihadapi antara lain : Rendahnya kesejahteraan masyarakat; Terbatasnya jumlah dan kualitas tenaga pelayanansosial, Lemahnya kemampuan bangsa dalam mengelola keragaman budaya;Terjadinya krisis jati diri (identitas) nasional; dan Lemahnya penegakan hukum.

Secara umum dalam teori sosial budaya yang berkembang di Indonesia, disebutkan paling tidak terdapat tiga komponen utama dari sosial budaya dalam kehidupan masyarakat yang tumbuh mengakar sejak lama yaitu :

a. Musyawarah

Musyawarah sejak lama sudah menjadi budaya bangsa Indonesia, dalam setiap kesempatan musyawarah ini dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, mulai dari hendak mengawinkan anak, membangun rumah, hingga memilih kepala desa dilakukan dengan musyawarah.

Pada tingkat desa, dalam merancang kegiatan pembangunan desa, masyarakat desa melakukan musyawarah dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, tokoh adat hingga tokoh agama. Karena itulah secara formal kegiatan musyawarah tersebut kemudian dilembagakan. Dengan demikian pemilihan kepala desa sudah dilaksanakan secara langsung di desa jauh sebelum dilaksanakan di tingkat nasional (pemiihan Presiden).

b. Paternalisme

Paternalisme adalah suatu sistem yang menempatan pimpinan sebagai pihak yang paling dominan. Paternalisme tumbuh subur karena dipengaruhi oleh kultur feodal yang sebagian besar daerah diIndonesiamasih menganutnya yang semula merupakan daerah bekas kerajaan. Daerah-daerah bekas kerajaan ini telah mempunyai sistem nilai, norma,dan adat kebiasaan yang selalu menjunjung tinggi dan mengagungkan penguasa/pemimpin sebagai orang yang harus dihormati dan dipatuhi karena mereka telah memberikan kehidupan dan pengayoman kepada warga masyarakat.

Budaya paternalisme memandang pemimpin sebagai pihak yang harus dihormati oleh pengikutnya. Sedangkan pada sisi lain, pengikut dalam hal ini masyarakat hanya dipandang sebagai alat untuk menjalankan perintah tujuan pemimpinnya.Adakecendrungan bahwa aparat bikrokrasi yang telah menjadi pemimpin mempertahankan kedudukannya kerana dirasakan mampu memberikan keuntungan finansial dan sosial. Dampaknya adalah aparat bekerja karena orang yang ada di dalamnya cenderung menurut dan tunduk pada atasannya tanpa memiliki inisiatif untuk mengembangkan diri.

Di dalam budaya paternalisme, atasan memberikan perlindungan dan pekerjaan kepada bawahannya. Hal tersebut berdampak pada munculnya perasaan berhutang budi, segan, dan takut pada diri bawahan terhadap pemimpin, yang pada akhirnya ketika atasan bertindak di luar peraturan, rakyat/pengikut tidak memiliki keberanian untuk menegurnya.

c. Gotong Royong

Tidak dapat kita pungkiri bahwa gotong royong sangat kental terjadi di perdesaaan, namun bukan berarti di perkotaan tidak terdapat gotong royong. Kita masih dapat menyaksiklan di kota-kota adanya kerja bakti membersihkan lingkungannya, membangun sekolah, atau saling memberikan bantuan ketika terjadi bencana alam.

Dengan adanya gotong royong ini, maka kegiatan pembangunan akan lancar dan kondusif sehingga menciptakan pembangunan yang mantap dan dinamis. Sebab beban dan biaya pembangunan akan terasa menjadi ringan bila dikerjakan secara bersama-sama atau bergotong royong.

Kebudayaan merupakan buah usaha budi, dimensi, dan jati diri manusia baik sebagai perorangan, kelompok, maupun sebagai bangsa. Budaya ini akan mengalami perubahan baik disebabkan oleh faktor internal bangsa maupun faktor eksternal yang datangnya dari luar sebagai akibat globalisasi.

Pemahaman dan penerapan budaya lokal melalui jalur pendidikan, keluarga dan masyarakat belum berjalan secara optimal sebagai akibat apresiasi dan penerapan masyarakat terhadap budaya sendiri semakin lemah pula. Pembangunan yang selama ini dilakukan secara terpusat telah menyebabkan lunturnya penerapan ciri budaya daerah dalam pelaksanaan pembangunan.

Pengaruh perkembangan lingkungan lingkungan global, regional maupun nasional dan provinsional/lokal terhadap upaya membangun ketahanan sosial budaya guna meningkatkan ketahanannasional :

a. Pengaruh perkembangan lingkungan Global

Globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi komunikasi informasi dan transportasi, menyebabkan dunia terasa semakin sempit, transparan dan tanpa batas yang semakin mengglobal. Proses globalisasi tercermin dalam globalisasi informasi dan globalisasi ekonomi, yang membawa sistem nilai  yang positif yang mendorong ke arah kemajuan dan modernisasi dan yang bersifat negatif dapat mempengaruhi persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu adanya kecenderungan dan dominasi negara adidaya yang selalu memaksakan kehendaknya merupakan permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan politik luar negeri. Negara-negara yang kuat cenderung menerapkan kepentingan politik serta dilandasi nilai-nilai yang berlaku dimasyarakatnya kepada negara lain dalam hal demokrasi, Ham dan lingkungan hidup serta pandangan bebas, hal ini menyebabkan tekanan politik dan krisis ekonomi nasional yang dapat memperlemah ketahanan nasional.

b. Pengaruh perkembangan lingkungan Regional

Regionalisme dianggap penting karena region merupakan wadah paling tepat dan paling mungkin untuk menerima perubahan dan mengintensifkan resistensi dari tekanan kompetisi kapitalisme global. Adanya negara yang kuat cenderung menerapkan kepentingan politik serta dilandasi nilai-nilai yang berlaku dimasyarakanya kepada negara lain dalam hal demokrasi, HAM dan lingkungan hidup serta pandangan bebas, hal ini menyebabkan tekanan politik dan krisis ekonomi nasional yang dapat memperlemah ketahanan nasional. Kerjasama regional antar negara merupakan regionalisme yang terbentuk sebagai upaya untuk merespon tantangan eksternal. Dalam regionalisme ini ditekankan adanya koordinasi untuk menentukan posisi regional dalam sistem internasional.

c. Pengaruh perkembangan lingkungan Nasional

Pembangunan kesejahteraan sosial yang telah dilaksanakan pada umumnya telah memberi kontribusi peran pemerintah dan masyarakat di dalam mewujudkan kesejahteraan sosial yang makin adil dan merata. Permasalahan dan kebutuhan manusia tidak terlepas dari kondisi dan perubahan lingkungan baik fisik maupun non-fisik. Maka perencanaan yang lebih cermat perlu dilakukan dengan memperhatikan aspek manusia, lingkungan fisik, sosial dan lingkungan strategisnya.      Permasalahan kesejahteraan sosial masih didominasi oleh permasalahan kemiskinan dan keterlantaran, keterpencilan dan ketertinggalan, ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku serta akibat bencana.

Secara sosiologis bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk yang terdiridari berbagai suku bangsa dan etnis dengan adat-istiadat, bahasa, pandangan hidup serta agama dan kepercayaan yang berbeda-beda, hal ini dapat merupakan titik rawan yang menimbulkan perpecahan bangsa. Tingginya tingkat pengangguran dapat menimbulkan kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan yang miskin sehingga krisis akan semakin sulit teratasi.

d. Pengaruh perkembangan lingkungan Provinsional/Lokal

Perkembangan masyarakat yang sangat cepat sebagai akibat dari globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi membutuhkan penyesuaian tata nilai dan perilaku. Pengembangan kebudayaan diharapkan dapat memberikan arah bagi perwujudan identitas nasional yang sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, keramahtamahan sosial,dan rasa cinta tanah air yang pernah dianggap sebagai kekuatan pemersatu dan ciri khas bangsa Indonesia, makin pudar bersamaandengan menguatnya nilai-nilai materialisme. Demikian pula kebanggaan atas jati diri bangsa seperti penggunaan bahasa Indonesia secara baik danbenar, semakin terkikis oleh nilai-nilai yang dianggap lebih unggul. Identitas nasional meluntur oleh cepatnya penyerapan budaya global yang negatif, serta tidak mampunya bangsa Indonesia mengadopsi budaya global bagi upaya pembangunan bangsa dan karakter bangsa.

Untuk memperkuat jati diri bangsa dan memantapkan budaya nasional, maka perlu upaya untuk memperkokoh ketahanan budaya nasional sehingga mampu menangkal penetrasi budaya asing yang bernilai negatif dan memfasilitasi proses adopsi dan adaptasi budaya asing yang bernilai positif dan produktif.

Sumber:


One response to “KETAHANAN NASIONAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: