Sekar Anindya

just another blog

Cita-Cita Luhur

on June 1, 2011

“Apakah cita-cita luhur Anda?”

Jika ada yang bertanya seperti itu kepada saya, mungkin saya akan berpikir sejenak untuk menjawabnya. Sedikit flashback ke belakang, saat saya masih berumur sekitar 6 atau 7 tahun, saya ingat bahwa cita-cita saya adalah menjadi seorang pelukis, kemudian berganti menjadi penyanyi, lalu berganti lagi menjadi dokter, dan seterusnya sampai saya lupa berapa kali saya mengganti “cita-cita” saya itu-selayaknya anak kecil yang selalu berganti cita-citanya.

Setelah beranjak remaja, sekitar seumur siswa SMP saya merasa tidak memiliki cita-cita yang pasti. Tidak menjadi dokter, pelukis, apalagi penyanyi. Tidak semuanya. Saya membiarkan diri saya tidak memiliki cita-cita dan ambisi. Setelah SMA pun saya belum memilikinya.

Entah saya akan menjadi apa nantinya, biarlah yang terpenting saya sekolah dulu dengan sebaik-baiknya.

Ya, begitulah yang saya pikirkan. Tidak tahu apa itu pikiran yang baik atau tidak. Membiarkan diri saya tanpa cita-cita dan ambisi dalam hidup.

Tapi saat akan lulus SMA saya mulai berpikir, apa keinginan saya? Apa cita-cita saya? Apa yang akan saya lakukan saat sudah dewasa nanti? Mungkin dari sini saya mulai berpikir ke depan.

Cita-cita saya : kuliah di jurusan teknik elektro? Apa iya bisa dikatakan seperti itu? Sepertinya itu tidak bisa dikatakan sebagai cita-cita. Mungkin itu adalah salah satu jalan menuju cita-cita saya. Lalu apa cita-cita saya?

Menjadi orang yang ahli dibidang elektro kah? Mungkin iya. Karena saya sudah mulai masuk ke “dunia” elektro, ya walaupun saya masih pemula. Yang ada dalam pikiran saya adalah nantinya setelah lulus menjadi sarjana saya akan bekerja di kantor, bekerja di depan komputer, dan menjadi bawahan seorang bos. Entahlah, mungkin saya adalah satu-satunya orang yang paling tidak memiliki ambisi di dunia ini, hahaha.

Tapi dibalik itu semua, saya mempunyai satu tujuan di hidup saya. Yang mendorong saya untuk sekolah dengan benar, berusaha meraih hasil terbaik di akademik dan non-akademik, dan juga membuat saya semangat untuk melakukannya. Satu tujuan itu adalah :

Membuat Orang Tua Saya Bangga

Satu kalimat itu jelas dan sangat bermakna bagi saya. Orang tua sayalah yang membuat saya ingin selalu meraih yang terbaik di segala bidang. Mereka juga yang menyemangati saya. Saya ingin sekali membahagiakan mereka, membuat mereka bangga dengan apa yang saya miliki. Karena saya tidak memiliki apa-apa untuk saya berikan sekarang ini, maka hanya prestasi yang bisa saya berikan untuk mereka. Disamping itu juga tetap patuh dan mengikuti apa yang mereka bicarakan.

Saya ingin sekali membahagiakan mereka. Dengan sekolah yang benar mungkin bisa menjadi salah satu pintu untuk membahagiakan mereka di masa depannya. Apabila saya sekolah dengan benar, mudah-mudahan saya bisa menjadi orang yang sukses. Apabila saya menjadi orang yang sukses, maka orang tua saya akan bangga.

Saya tidak tahu apakah ini bisa dikatakan sebagai Cita-Cita Luhur, dan saya juga tidak tahu apakah ini pikiran yang bodoh, karena saya tahu kesuksesan tidak hanya dari prestasi yang baik saat seseorang menuntut ilmu-semua tahu bahwa masih banyak sarjana dengan nilai yang baik tetap menganggur. Tapi yang pasti ini adalah keinginan saya. Saya ingin menjadi orang yang sukses walaupun itu tidak mudah. Dengan usaha, kerja keras, dan berdoa saya yakin saya bisa. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Tuhan menghendaki.

Sekarang, esok, dan seterusnya, inilah yang ingin saya raih, semua demi orang tua yang sangat saya sayangi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: