Sekar Anindya

just another blog

Uang Adalah Raja??

on February 20, 2011

Pada masa sekarang ini, uang sepertinya sangat berkuasa di negeri kita ini. Mulai dari korupsi, penyuapan, penggelapan uang, dan masih banyak lagi masalah yang berhubungan dengan uang alias masalah ekonomi.

Salah satunya korupsi yang menjadi masalah besar yang sedang dihadapi bangsa kita. Dimulai dari masa pemerintahan presiden kedua, Soeharto, masalah korupsi bagaikan sudah mengakar di Indonesia. Tidak hanya mereka yang duduk di pemerintahan dengan jabatan yang tinggi, tapi juga dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jabatan rendah. Sepertinya korupsi sudah menjadi hal yang ”wajar” bagi mereka yang memiliki jabatan, walaupun mungkin tidak semuanya melakukan hal ini.

Jadi sebenarnya korupsi adalah produk dari sikap hidup satu kelompok masyarakat yang memakai uang sebagai standar kebenaran dan sebagai kekuasaaan mutlak. Sebagai akibatnya, kaum koruptor yang kaya raya dan para politisi korup yang berkelebihan uang bisa masuk ke dalam golongan elit yang berkuasa dan sangat dihormati. Mereka ini juga akan menduduki status sosial yang tinggi dimata masyarakat.

Korupsi dimulai dengan semakin mendesaknya usaha-usaha pembangunan yang diinginkan, sedangkan proses birokrasi relaif lambat, sehingga setiap orang atau badan menginginkan jalan pintas yang cepat dengan memberikan imbalan-imbalan dengan cara memberikan uang pelicin (uang suap). Praktek ini akan berlangsung terus menerus sepanjang tidak adanya kontrol dari pemerintah dan masyarakat.

Agar tercapai tujuan pembangunan nasional, maka mau tidak mau korupsi termasuk penyuapan harus diberantas. Namun, dalam prakteknya ini sangat sukar bahkan hampir tidak mungkin dapat diberantas, oleh karena sangat sulit memberikan pembuktian-pembuktiannya. Selain itu, sekarang ini para penegak hukum juga sudah bisa disuap. Para koruptor bisa melenggang bebas sekalipun sudah terbukti bersalah, ataupun juga mereka bisa menikmati fasilitas berlebih di dalam bui. Sangat tidak setimpal dengan apa yang telah mereka perbuat.

Kita ambil contoh kasus Artalyta Suryani. Artalyta Suryani alias Ayin adalah seorang pengusaha Indonesia yang dikenal karena keterlibatannya dalam kasus penyuapan jaksa kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Artalyta dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakartadan dijatuhi vonis 5 tahun penjara pada tanggal 29 Juli 2008 atas penyuapan terhadap Ketua Tim Jaksa Penyelidik Kasus BLBI Urip Tri Gunawan senilai 660.000 dolar AS. Kasus ini mendapat banyak perhatian karena melibatkan pejabat-pejabat dari kantor Kejaksaan Agung, dan menyebabkan mundur atau dipecatnya pejabat-pejabat negara. Kasus ini juga melibatkan penyadapan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan hasil penyadapan tersebut diputar di stasiun-stasiun televisi nasional Indonesia.

Artalyta ditangkap oleh petugas KPK pada awal Maret 2008, sehari setelah Urip Tri Gunawan tertangkap dengan uang 660.000 dolar AS di tangan. Urip adalah Ketua Tim Jaksa Penyelidik Kasus BLBI yang melibatkan pengusaha besar Sjamsul Nursalim. Kejaksaan menghentikan penyelidikan tersebut melalui Jaksa Agung MudaKemas Yahya Rahmanpada tanggal 29 Februari 2008 Percakapan antara Artalyta, Urip dan Kemas yang disadap oleh KPK menunjukkan adanya suap dan keterlibatan Artalyta dalam penghentian kasus BLBI tersebut.

Tindakan Artalyta tersebut, menurut JPU KPK, melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a dan b UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor.Dalam pengadilan Artalyta mengaku tidak bersalah, dan menyatakan uang tersebut merupakan bantuan untuk usaha bengkel Urip. Majelis Hakim menolak pengakuan tidak bersalah Artalyta, dan menilai perbuatan Artalyta telah mencederai penegakan hukum di Indonesia. Majelis Hakim juga menganggap kenyataan bahwa Artalyta tidak mengakui kesalahannya serta memberikan pernyataan yang berbelit-belit di pengadilan sebagai hal yang memberatkannya. Majelis Hakim menjatuhkan vonis penjara lima tahun serta denda 250 juta rupiah kepada Artalyta, sesuai tuntutan jaksa dan hukuman maksimal untuk penyuapan pejabat negara dalam undang-undang

Tapi ternyata di dalam penjara, Ayin mendapatkan fasilitas yang sangat mewah. Ruangan bui yang seharusnya membuat dia kapok malah membuatnya nyaman seperti berada di dalam hotel. Seperti yang bisa kita lihat dibawah ini, bagaimana mewahnya ruang tahanan Artalyta Suryani yang menghebohkan masyarakat.

Dia pun bebas pada tanggal 27 Januari 2011 diduga karena memperoleh pembebasan bersyarat setelah menjalani eksekusi penahanan sejak Maret 2009. Tapi, Patrialis Akbar selaku Menkum HAM menegaskan bahwa pembebasan bersyarat Ayin sama sekali tidak ada remisi atau potongan masa tahanan.

Pendapat saya mengenai kasus ini adalah seharusnya pemerintah lebih serius dalam menangani kasus korupsi dan penyuapan seperti contoh kasus diatas. Apabila para koruptor dibiarkan bebas atau sudah tertangkap tetapi masih bisa menikmati fasilitas mewah di ruang tahanan, itu tidak akan membuat mereka jera. KPK dan penegak hukum lainnya harusnya bisa melakukan tugasnya dengan baik. Lembaga hukum ini harusnya bisa menegakkan hukum dan bisa tegas bertindak adil untuk berkata tidak pada para koruptor. Harusnya perlakuan para koruptor disamaratakan dengan narapidana yang misalnya ”hanya” mencuri satu buah handphone. Memang zaman sekarang ini sulit untuk memberantas dan membersihkan korupsi dan penyuapan. Seakan-akan UANG ADALAH RAJA !!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: